LATAR BELAKANG
Esensi dari filsafat adalah mencari kebenaran. Demikian pula Reiki. Moralitas agama juga mengajarkan kebenaran. Kebenaran dalam filsafat dan ilmu adalah "kebenaran akal", sedangkan kebenaran menurut agama adalah "kebenaran wahyu". Kita tidak akan berusaha mencari mana yang benar atau lebih benar di antara keduanya, akan tetapi kita akan melihat apakah keduanya dapat hidup berdampingan secara damai, apakah keduanya dapat bekerjasama atau bahkan saling bermusuhan satu sama lain. Meskipun filsafat dan ilmu mencari kebenaran dengan akal, hasil yang diperoleh baik oleh filsafat maupun ilmu juga bermacam-macam. Hal ini dapat dilihat pada aliran yang berbeda-beda, baik di dalam filsafat maupun di dalam ilmu. Demikian pula terdapat bermacam-macam agama yang masing-masing mengajarkan kebenaran. Bagaimana kajian filosofis antara Reiki sebagai ilmu dan moralitas agama akan diperlihatkan sebagai berikut.
APAKAH REIKI ITU?
Fenomena masyarakat moderen saat ini adalah lahirnya sebuah kesadaran yang disebut sebagai kesadaran “back to nature”. Gerakan ini adalah sebuah gerakan masyarakat yang menyadari kekuatan alami dalam hidup sebagai penyeimbang kehidupan. Bahkan, gerakan ini telah menjadi semacam gaya hidup “baru” bagi masyarakat moderen barat dan telah merambah ke timur. Gaya hidup yang lebih pada keselarasan tubuh (body), pikiran (mind) dan Roh (soul) yang memiliki kekuatan koneksitas untuk menyeimbangkan diri. Sebut saja minat masyarakat barat terhadap meditasi, yoga, aura, Reiki yang mengandalkan kekuatan energi dan pikiran semakin diminati. Berbagai penelitian tentang peran Emotional Metabolism juga mewarani wacana tentang kemampuan mind terhadap perilaku sehat. Perspektif baru dunia spiritual yang berkaitan dengan emosional metabolisme pun kini telah menjadi sebuah kesadaran baru dalam beragama. Munculnya gerakan-gerakan semacam New Age yang lahir dan menjadi wacana di akhir tahun 1960-an dan awal 1970-an dan terus menjadi perbincangan masyarakat Eropa dan Amerika sampai saat ini, sebagai “gerakan sadar diri” (self-conscius movement). Visi transformasi New Age berpijak dari “transformasi personal” kearah transformasi sosial”. Dan diantara berbagai gerakannya, diantaranya adalah gerakan kesehatan holistik (The Holistik Health Movement) yang begitu fenomenal dalam skala global. Pemahaman baru tentang body, mind and soul sedang terus terbangun dalam kesadaran masyarakat moderen. Reiki berkembang seiring dengan bangkitnya kesadaraan baru manusia untuk kembali ke alam.
Menurut Riko Rahardian (Divine Spirit through Essentian Reiki, 2002), kata Reiki, terdiri dari dua
huruf Kanji dalam bahasa Jepang, yaitu Kanji Rei dan Ki. Kanji Rei menurut
kamus Kojien (Kamus besar bahasa Jepang) mengandung beberapa makna, diantaranya
adalah 1.Substansi spiritual yang keberadaannya bisa di dalam maupun terpisah
dari suatu jasad dan 2. Suatu kekuatan misterius, yang tidak terlihat oleh mata
dan tidak dapat diukur. Sedang Kanji Ki mengandung banyak sekali makna,
dintaranya adalah: “suatu substansi yang mengisi alam semesta, dan dianggap
sebagai dasar pembentuk alam semesta”. Makna lainnya adalah “energi yang
menjadi penggerak/motor kehidupan, sumber kehidupan. Dengan demikian, dapat
disimpulkan bahwa Reiki memiliki makna “energi vital kehidupan yang ada di alam
semesta yang berasal dari kekuatan yang Maha Kuasa/Illahi” . Para ahli sering
menyebut Reiki sebagai The Universal Life Force Energy. (TULFE). Bahkan ada
yang berpendapat bahwa, kata Rei dapat diterjemahkan secara tepat menjadi
'Pencapaian Kemantapan Tertinggi"
Umumnya, Reiki adalah suatu cara penyembuhan alamiah berdasarkan penggunaan tenaga kehidupan alam semesta yang mengalir melalui titik energi praktisi Reiki, yang bertindak sebagai saluran Reiki, ke tubuh pasien yang memerlukan penyembuhan.
MORALITAS AGAMA
Sudah diuraikan di atas bahwa yang dicari oleh filsafat
adalah kebenaran. Demikian pula Agama juga mengajarkan kebenaran. Kebenaran
dalam filsafat dan ilmu adalah "kebenaran akal", sedangkan kebenaran
menurut agama adalah "kebenaran wahyu" berdasarkan prinsip-prinsip
moralitasnya sendiri. Bahkan pada awal pertumbuhannya ilmu sudah terkait dengan
masalah moral. Ketika Copernicus (1473-1543) mengajukan teorinya tentang
kesemestaan alam dan menemukan bahwa “bumi yang berputar mengelilingi matahari”
dan bukan sebaliknya seperti yang diajarkan oleh ajaran agama (saat itu), maka
timbulah interaksi anatara Ilmu dan moral (yang bersumber pada ajaran agama)
yang berkonotasi metafisik.
Dalam makalah ini, nilai-nilai moral agama yang dimaksud adalah kepasrahan total terhadap keagungan Ilahi (yang ada dalam setiap agama). Oleh sebab itu, dalam artikel ini kita tidak akan berusaha mencari mana yang benar atau lebih benar di antara Reiki dan Morlitas Agama, akan tetapi kita akan melihat dari tiga aspek filsafat, yaitu Ontologis (apanya), Epistemologis (Metoda melaksanakannya) dan Axiologis (Kegiatannya apa). Lalu apakah keduanya dapat hidup berdampingan secara damai, apakah keduanya dapat bekerjasama atau bahkan saling bermusuhan satu sama lain?
ONTOLOGI: HAKIKAT APA YANG DI KAJI
Reiki merupakan tradisi spiritual yang berasal dari
pusat-pusat spiritual pada ribuan tahun silam (Tibet, Mesir, India, Cina,
Lemuria, Atlantis). Tentu saja teknik ini belum dinamakan dengan Reiki, karena
Reiki merupakan nama modern setelah teknik ini diketemukan kembali oleh Master
Mikao Usui.
Walaupun dikatakan bahwa teknik sejenis Reiki terdapat
hampir di seluruh pusat-pusat spiritual kuno, akan tetapi Reiki modern lebih
dekat dengan tradisi energi esoteris yang pernah ada di dataran Tibet kuno.
Sekitar 2500 tahun sebelum Masehi, teknik Reiki pernah
didokumentasikan oleh para biarawan di atas sutra-sutra suci. Akan tetapi
mengingat bahwa teknik ini merupakan teknik yang dianggap "rahasia",
maka secara perlahan sejalan dengan waktu teknik ini mulai "hilang"
dan dilupakan dalam kebudayaan manusia pada jaman berikutnya. Sampai pada akhir
abad ke-19, seorang bangsa Jepang yang bernama Mikao Usui berhasil
"menggali" kembali teknik kuno ini setelah melalui perjalanan yang
sangat panjang. Bahkan Mikao Usui berhasil menciptakan sistem dimana Reiki ini
akhirnya dapat diturunkan & diajarkan kepada orang lain. Dalam sejarah
perkembangan Reiki, tercatat berbagai versi yang beredar di sekitar kisah Mikao
Usui. Secara garis besar terdapat 2 kelompok versi yang sangat berbeda, yaitu
versi barat (western) dan versi timur (eastern).
Walaupun terdapat 2 versi yang berbeda, akan tetapi
hendaknya hal ini tidak perlu terlalu diperdebatkan, karena hal ini tidaklah
menyangkut esensi Reiki secara keseluruhan sebagai energi yang diberikan Illahi
bagi umat manusia.