Senin, 10 Juli 2023

REIKI dan MORALITAS AGAMA Suatu tinjauan Filsafat (2)

Lanjutan (2)

Akan tetapi peradaban dan spiritualitas manusia modern yang menyebabkan kemampuan ini seakan-akan "tertidur".

Melalui suatu proses yang sangat sederhana yang disebut dengan Attunement, maka kemampuan Reiki seseorang dapat dibangkitkan kembali. Attunement ini hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang disebut dengan Reiki Master.

Secara sederhana, Attunement dapat digambarkan sebagai proses penyelarasan energi seseorang terhadap pusat energi alam semesta. Seseorang yang telah mendapatkan Attunement Reiki, maka berarti ia memiliki hubungan permanen dengan alam semesta (universal), oleh karena itu dengan cara yang sangat sederhana pula ia dapat menyerap energi alam semesta dan mengeluarkannya kembali untuk berbagai kebutuhan. Energi alam semesta ini (selanjutnya disebut dengan energi Reiki) akan masuk melalui Cakra Mahkota (suatu gerbang energi yang terletak di daerah ubun-ubun kepala), mengalir melalui jalur-jalur eterik yang terdapat di tubuh, dan akhirnya dikeluarkan kembali melalui Cakra (misalnya cakra telapak tangan, cakra Ajna, dll).

Energi Reiki ini sangat nyata dapat dirasakan oleh para praktisi Reiki, yaitu berupa sensasi hangat atau dingin yang disertai dengan getaran-getaran halus.

Eksplorasi tentang Reiki sangat banyak ditulis, baik filosofi maupun aplikasinya. Tetapi di atas semuanya itu, Reiki hanyalah sebuah teknik. Kami tekankan disini bahwa pencarian jati diri manusia diawali dengan keyakinan. Keyakinan akan ke-Illahian Pencipta yang sebenarnya sejak dari lahir telah ditanamkan dalam benak kita. Keyakinan bahwa pasrah di dalam nama Allah adalah permulaan pengetahuan.

Baik pembaca maupun kami, penulis, mengerti bahwa satu tugas adanya kita di dunia, adalah untuk membuat kontribusi agar tercapai kesejahteraan manusia dan kebersamaan manusia. Sedemikian sehingga secara sadar, terungkap pengakuan kita akan kebesaran Illahi

Manusia dikaruniai tubuh yang ajaib. Sesuai dengan perintah Illahi, tugas manusia adalah untuk menemukan rahasia alam, semesta dan pribadi. Ini juga yang merupakan kewajiban dan alasan mengapa Ruh berulang kali harus belajar. Proses penyempurnaan Ruh adalah proses dua arah. Ruh kita bertanya dan mendengarkan Penciptanya tentang apa yang semestinya dilakukan dan sebaliknya, Allah berkenan untuk mendengar dan berbicara dengan kita. Jalur komunikasi dengan Khalik kita sebenarnya sudah ada. Doa, zikir, saat teduh, semuanya merupakan jalur komunikasi yang sudah kita kenal baik.

Rahasia teknik penguatan jalur komunikasi itu yang kami sebarkan sebagai Inti Reiki. Tetapi sekali lagi, Inti Reiki hanyalah sebuah teknik (penekanan itu kami gambarkan sebagai garis panah terputus-putus). Pada akhirnya kembali kepada keputusan Anda untuk mencari kebenaran menurut kehendak bebasnya.

Tuhan Pencipta Alam Semesta mengaruniakan kehendak bebas kepada manusia untuk mencari dan menemukan sampai tak terbatas rahasia alam. Maka selayaknya jika dalam proses pencarian itu, ucapan terimakasih selalu kita ucapkan. Bukan hanya kepada Ruh kita, atau entitas pada dimensi lain yang ikut membantu kita menuju ke kedewasaan ruh, tetapi, yang utama adalah ucapan terimakasih kepada Pencipta kita. Hanya dengan kemurahan-Nya segala pencarian ini bisa terjadi.

Jadi dapat kita lihat, Reiki adalah suatu teknik eksplorasi dimana hasil akhir yang diharapkan adalah: Pengakuan akan keagungan Tuhan dengan pemahaman dari sisi spiritual yang lebih luas.

Pengakuan sangat berpengaruh pada langkah manusia selanjutnya. Dengan pengakuan, tujuan utama telah ditentukan. Pengakuan ibarat sebuah fondasi. Dasar pengambilan setiap langkah dan merupakan dasar fokus kehidupan manusia. Tetapi sebuah akhir adalah juga sebuah awal. Pengakuan akan keagungan Allah membawa kita kepada penegasan akan iman dan percaya, demikian sebaliknya dan seterusnya.

Penegasan atau afirmasi yang berulang-ulang, jika dilakukan dengan kesungguhan, dan diarahkan ke alam bawah sadar, akan memperkuat dan menspiritualkan kesadaran kita.

Kita adalah apa yang kita pikirkan. Bukan melulu pikiran secara sadar, tetapi juga bawah sadar. Untuk menuju kesempurnaan hidup, termasuk didalamnya adalah kesembuhan mental dan emosi, kita harus menguraikan dan menemukan akar pahit dari konflik bawah sadar kita. Pengeliminasian bibit negatif diperlukan untuk membuat penegasan atau afirmasi yang kita lakukan menjadi berguna.

Afirmasi hanya langkah awal dari suatu proses pembenahan diri. Syarat mutlak dalam sebuah penggunaan afirmasi adalah Berdoa. Doa yang benar adalah doa yang aktif.

Doa sebelum aktivitas merupakan permintaan kepada Illahi Tetapi doa sesudah aktivitas merupakan doa efektif yang tidak pernah pasif, doa yang penuh dengan keyakinan, matang dalam penegasan. Doa yang penuh dengan ucap syukur, karena kita sudah mengalami penyertaan dan kemurah hatian Allah.

Karena input baru dari setiap proses iterasi atau pengulangan proses afirmasi-pengakuan itu diharapkan sesuai dengan dasar eksplorasi, dan menambah keyakinan terhadap percaya dan agama, maka iterasi atau proses pengulangan berikutnya akan maju selangkah lagi dengan lebih mantap. Semua agama dan kepercayaan menekankan pentingnya pengakuan kepada Alllaahnya dan mengharamkan umatnya berpaling kepada illah lain. Maka kebiasaan memulai dan mengakhiri dalam doa ini juga yang merupakan tahap penyelarasan (attunement) permanen dengan Illahi Mengapa? Karena di atas segala upaya manusia untuk mencapai kesempurnaan, terdapat sang Khalik yang menuntut ciptaanNya untuk secara tulus dan terbuka mengakui keagungan Pencipta.

Tidak ada komentar:

New wesite

E-BOOK INTIREIKI 2023